Wednesday, June 21, 2017

Nice Home Work #5 IIP - Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Saya telat sekali nih mengumpulkan NHW #5 ini. Deadline nya kemarin Senin tapi baru tersentuh hari ini πŸ˜… subhanallah... Better late than never kan ya πŸ™Š. NHW #5 ini membuat saya berpikir keras. Tak tersentuh bukan karena tak ada waktu. Tapi karena saya bingung, masih terkait dengan NHW #4 , jurusan ilmu yang mana yang akan saya perdalam di kehidupan ini, antara parenting A - Z , atau bisnis online.

Bimillahi.. harus saya mulai dengan menjatuhkan pilihan. Parenting in syaa Allah. Saya ikhlaskan bisnis online kepada-Mu ya Allah. Jika memang Engkau ya Allah telah menetapkan bisnis online sebagai jalan rejeki kami, maka kehendak-Mu-lah yaa Allah yang akan terjadi.

A quote, yang mohon maaf saya belum berhasil menemukan siapa pencetus awalnya : "Bisnis yang gagal bisa diperbaiki, diulang, tetapi tidak dengan masa kecil seorang anak."

Tidak, bukan berarti saya menghendaki kegagalan dalam bisnis. Dengan ijin Allah, in syaa Allah bisnis ini akan berhasil. Pun dengan pendidikan anak, dengan ijin Allah, in syaa Allah akan berhasil. Tapi saya ingin menjadi seorang ibu yang membersamai anak-anak saya, tidak sekedar bersama anak-anak saya. Semoga Allah meridhoi dan memudahkan cita-cita ini. Aamiin.

Jadi ini PR matrikulasi IIP, NHW #5 :

πŸ“ *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*πŸ“ (Learning  How to Learn)

Setelah malam ini kita mempelajari  tentang “Learning How to Learn”  maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita.

Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.

Bukan hasil  sempurna yg kami harapkan, melainkan "proses" anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.

Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.

Jadi, singkatnya, PR kali ini adalah membuat desain pembelajaran ala saya. Ala saya. Mudah-mudahan saya sungguh telah mengenal diri saya sendiri sehingga saya bisa membuat desain pembelajaran yang tepat untuk diri saya sendiri 😁

1. Membaca buku

Saya mulai dari aktivitas yang saya senangi. Kalau dituruti, i am a bookworm. Tapi setelah menikah, setelah menjadi seorang ibu, saya harus lebih cerdas membuat prioritas. Sayang sekali buku terpaksa harus dinomorsekiankan. Semoga Allah menjaga keikhlasan saya πŸ˜… aamiin.

Book time, 45 menit dalam sehari. Sepertinya harus ditentukan seperti itu ya. Dua buku dalam satu bulan itu terlalu susah dievaluasi πŸ˜… . Karena parenting A-Z menjadi prioritas, 5 hari dalam satu pekan diprioritaskan untuk buku-buku yang mendukung parenting A-Z.

2. Mengikuti program-program di Institut Ibu Profesional dengan serius sehingga hasilnya optimal.

Tentu saja dengan demikian ilmunya harus dipraktekkan 😁

3. Grup FB parenting, follow pakar-pakar parenting, untuk pembelajaran yang santai πŸ˜„

Yang telah dan sedang saya ikuti adalah grup Parenting with Elly Risman.

Follow akun FB Kiki Barkiah, Ida Nur Laila, dan lain-lain, karena belajar bisa dari mana saja ☺

4. Instagram pun bisa menjadi pembelajaran lho

Akun instagram @retnohening , tentunya sudah banyak yang tahu, banyak pembelajaran di sana sehingga si kecil Kirana maa syaa Allah secerdas itu πŸ˜€

Akun instagram @illonaillonalona , ada ibu dan ayah yang maa syaa Allah kuat di sana, Allah mampukan untuk mendampingi dan membersamai si cantik Bella yang qodarullah memiliki Pfeiffer Syndrome , hingga terkena Post Traumatic Syndrome Disorder . Mengingatkan saya untuk terus meningkatkan syukur dan mengurangi keluh.

Tapi pembelajaran yang seperti ini juga tentunya harus dibatasi karena tujuannya membersamai anak, bukan sekedar bersama anak tapi sayanya pegang gadget. Aduh.

5. Mendatangi majelis-majelis ilmu yang mengajarkan parenting. Berguru dengan ahlinya, tidak sekedar berguru pada buku. Saat ini masih agak susah πŸ˜… kemana2 masih harus nebeng sana sini. Semoga Allah kelak memudahkan.

6. Praktek.

Anak saya baru berusia 9 bulan. Maka praktek di sini menurut saya bisa dengan cara-cara seperti ini.

- Ketika anak bangun, taruh gadget kalau tidak betul-betul penting. Membersamai anak dengan kesadaran penuh ketika menyuapi, memandikan, bermain. Dengan demikian baik anak maupun saya sebagai ibunya tidak akan kehilangan momen kebersamaan, momen pendidikan langsung dari saya ibunya.

- Melibatkan anak dalam aktivitas kita sesuai usia anak. Karena masih bayi ya misal pas nyapu ya anaknya digendong. Hihi. In syaa Allah menguatkan bonding, bonus langsing πŸ˜„ #eh.

- Membacakan anak buku minimal 15 menit dalam sehari.

Btw saya lagi nabung nih pengen beli halo balita πŸ˜† doain cepet terkumpul yaa.

Sementara itu dulu desain pembelajaran ala saya. Semoga Allah memudahkan kita dalam mendidik anak-anak kita πŸ˜€ . Aamiin.

Sunday, June 11, 2017

Nice Home Work #4 IIP

Menjadi ibu profesional ternyata tidak mudah ya. Tapi tidak mudah itu artinya tetap bisa. Itu yang saya yakini.

PR ke-4 dari matrikulasi ini contohnya. Tidak kunjung saya kerjakan. Astaghfirullah. Tandanya saya harus memperbaiki skala prioritas saya dan kemudian komitmen menjalankannya # introspeksi.

Saya lagi sibuk jualan Bu ^^, iya jualan. Jualan online. Masa-masa mendekati lebaran begini masa panen, maa syaa Allah, alhamdulillah. Jadinya yang lain-lain terabaikan. Eh tapi anak dan suami saya tidak terabaikan kok in syaa Allah. Berikut PR-nya.

πŸ“šNICE HOME WORK #4

πŸ€MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FIITRAH πŸ€

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?

Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?


Mengenai menguasai jurusan ilmu, terus terang sejak awal saya agak bingung bagaimana pembagiannya kalau cuma boleh memilih satu. Pekerjaan utama yang wajib ingin saya kuasai ilmunya tentunya tentang parenting dan rumah tangga. Untuk? Untuk keluarga saya sendiri tentunya utamanya. Saya memilih untuk di rumah. Maka saya selalu berharap dan berdoa agar menjadi ibu dan istri yang berhasil. Bukankah itu artinya ilmu tentang parenting dan rumah tangga harus saya kuasai? Itulah kenapa saya mengikuti matrikulasi IIP. Harapan dan rencananya in syaa Allah berlanjut ke program2 IIP yang lain.

Kalau yang disebut jurusan ilmu adalah mengenai produktivitas secara pribadi, jawaban saya tidak berubah dari NHW#1. Saya ingin menguasai ilmu di bidang bisnis online dan pendukung-pendukungnya, yang telah dan sedang saya jalani. Sampai saat ini saya belum/tidak berpikir untuk mengubahnya.

b.  Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Saya berusaha konsisten. Belum semua terjalani seperti check list yang saya buat sendiri. Tapi sedikit demi sedikit mulai banyak perbaikan.

c. Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Contoh :
Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.
Misi Hidup : memberikan inspirasi ke orang lain
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator


Bidang yang paling membuat saya berbinar-binar juga tentang parenting sih πŸ˜… . Tentang bagaimana bersikap terhadap anak. Tentang ASI dan MPASI. Tentang ilmu menggendong anak - babywearing.

Aduh tapi kok saya merasa *kegedhen empyak kurang cagak* ya kalau misi hidup sebagai inspirator. Ini harus saya gali lebih dalam lagi, harus saya perdalam ilmunya. Gak PeDe saya πŸ˜… tapi kalau ada yang terinspirasi ya alhamdulillah. Tabaarakallah.

Saya tidak sungkan berbagi update ilmu seputar dan babywearing dan atau MPASI. Tapi saya masih suka keder kalau berhadapan dengan *ilmu orang jaman dulu* πŸ˜… , tau maksudnya?

Misal menggendong pekeh. Yang mana *orang tua jaman dulu* akan melarang kalau usia belum sekian dan berbagai lainnya. Menggendong (yang disebut) pekeh ini ternyata sekarang ada ilmunya. Namanya M-shape position, yang ternyata malah posisi menggendong yang benar dan diperbolehkan sejak newborn. (Catatan : pekeh depan ya bukan pekeh di samping pinggang). Tak jarang bahkan sering orang yang melihat seorang ibu menggendong dengan posisi M-shape akan berkomentar negatif (bahkan nyinyir). Nah kalau sudah ketemu yang begini saya memilih menyingkir daripada timbul konflik. Apalagi kalau yang komentar mertua πŸ˜… hihihi. Pelan-pelan saja deh menjelaskannya. Alhamdulillah kalau keluarga kandung sendiri cenderung terbuka terhadap ilmu baru. Meski ragu tapi berusaha menerima penjelasan saya tentang ilmu ini. Melihat anak saya pun nyaman digendong begini, ya sudah. Maa syaa Allah, alhamdulillah.
d. Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Contoh :  Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan  tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :

1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai  10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang  di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak.  Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone  yang ditetapkan oleh ibu tersebut  adalah sbb  :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahuΓ¬n 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sang Ibu di contoh di atas adalah perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang kita jalankan bersama saat ini.

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri.

Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.


*masih akan diedit, belum selesai*

Sunday, June 4, 2017

Nice Home Work #3 IIP


Bismillahirrahmaanirrahiim. Ramadhan semakin istimewa dengan nice home work yang luar biasa dari Institut Ibu Profesional yang luar biasa. Hihi.

Pertama, tentang surat cinta. Well, akhirnya saya pernah menulis surat cinta 😍. Terus terang susah sekali merangkainya 😯 malah berasa sedang curhat di blog πŸ˜‚.

Karena agak susah bikin yang tertulis di atas kertas, saya kirim via WA tulisan nan panjang itu. Dan beginilah respon dari suami saya :


Iya. Udah gitu aja πŸ˜‚ .

Saya gak baper kok. Saya sudah menduga akan sesingkat dan sepadat itu. Jadi ya sudahlah. I love the way you love me suamiku. Hihihi.

Kedua, tentang potensi anak.

Anak saya masih bayi. Menuju 9 bulan in syaa Allah. Meski begitu, saya melihat ada hal-hal yang mudah-mudahan berpotensi positif untuk masa depannya.

Sofi kecil memperhatikan hal-hal dengan detail. Contohnya liat kain bermotif. Lihatnya bisa lamaaa banget. Diperhatikan betul-betul.

Sofi kecil punya kemauan sendiri. (Punya prinsip? Hihi) . Kalau gak mau ya gak mau betul. Gak suka dipaksa. Kalau mau ya berusaha menyampaikan dengan bahasa bayinya 😁 .

Sofi kecil tidak mudah percaya dengan orang asing. Mau digendong sama pakdhenya (nan jarang ketemu). Ngeliatin bunda dulu. Macam minta persetujuan. Tapi kayaknya sofinya memang gak mau. Belum jadi digendong udah nangis. Haha. Macam menegaskan keinginan. Karena ada loh.. udah nangis gitu tapi si orang dewasa keukeuh maksa aja mau gendong. Alhasil sampai sekarang Sofi macam sebel sama orang tersebut baru denger suaranya aja via telpon udah nangis maa syaa Allah.

Mudah-mudahan hal-hal kecil di atas berpotensi positif untuk masa depannya ya. In syaa Allah, aamiin.

Ketiga, potensi diri, kenapa saya dihadirkan Allah di keluarga ini.

Pertanyaan ketiga ini agak-agak berpotensi narsis ya. Hahaha. Tidak bermaksud narsis ya. Ini kan bahan evaluasi dan proses mengenal diri, agar bisa merencanakan peradaban dari dalam rumah.

Semua yang saya rasakan sebagai potensi positif saya tentulah atas ijin Allah, maΓ a syaa Allah, tabaarakallah.

Secara umum saya pendengar yang baik. Saya berusaha keras sekali, "mendengar untuk memahami", bukan sekedar "mendengar untuk menjawab".

Saya senang belajar. Terutama learning ya. Bukan studying. Hihi. Beda kan? Belajar bisa darimana saja. Kapan saja. Syaratnya adalah mengosongkan gelas, merendahkan hati. Lesson yang selalu menarik perhatian saya adalah tentang parenting, psikologi.

Saya tidak segan mengakui kesalahan. Meski dengan anak kecil, anak bayi. Kalau sama orang dewasa ada catatannya, face to face. Nasihati aku di kala sunyi. Kalau di depan orang lain meski cuma satu dan masih kecil, itu namanya mempermalukan.

Saya bisa menertawakan diri sendiri. Ini potensi juga kan yaa. Hihi. Gak semua orang bisa lho. Satu ini saya belajar dari ibu saya. Berawal dari prinsip : Nabi Muhammad SAW saja banyak yang menghina, lha kita ini memang lebih hina. Menertawakan diri sendiri itu self healing yang ma syaa Allah luar biasa.

Saya nggak gengsi-an.

Apa lagi yaa... sementara itu dulu deh ya.

Lantas kira-kira kenapa Allah hadirkan saya di tengah keluarga ini?

Aduh, ini butuh perenungan yang mendalam. Saya tuliskan dulu salah satunya yang berhasil saya temukan.

Mempelajari parenting membuat saya mengerti satu dua hal tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan dalam 1mendidik anak (yang bagaimana pun juga ternyata kadang tidak mudah untuk dipraktekkan, hehe). Allah mengijinkan saya memiliki kertertarikan lebih pada dunia parenting sehingga sering entah saya sadari atau tidak, dalam hati saya menganalisis kejadian-kejadian berkaitan dengan parenting yang terjadi di depan saya. Misalnya ketika ada keponakan yang tantrum di ruang publik. Bagaimana sang ibu meresponnya, (dalam hati) akan saya analisis, saya kait-kaitkan dengan sedikit ilmu parenting yang saya tahu dari sana-sini. Bukankah dalam kacamata Islam tidak ada yang kebetulan? Semua terjadi atas ijin Allah. Boleh jadi, Allah inginkan saya belajar lebih banyak dari kejadian yang Allah hadirkan di depan saya, kemudian saya bisa memberi masukan dengan cara yang ahsan (tentunya) kepada saudara saya dalam menyikapi anaknya.

Alkisah anak salah seorang saudara saya. Aduh, saya pikir, kasihan sekali anak itu. Dicap nakal oleh orang-orang terdekat. Dicap dan disuarakan. Dibanding-bandingkan dengan sepupunya dan kakaknya sendiri. Tarafnya sampai pada labelling. Sampai tetangganya pun ikut mencap nakal dan nenek kandungnya pun meng-amin-i. Maksud saya dengan meng-amin-i adalah, bukannya si anak dibela, tapi justru diiyakan kenakalannya. Semacam menggunjingkan cucu sendiri dengan tetangganya. Ini baru neneknya. Belum bibinya, pamannya. Aduhai. Lantas siapa yang akan membelanya.

Tetangga = "Nek si A ki nakal tenan kae, ora koyo mbakyune."
Nenek = "Ho'oh pancen nakal si A kae. Nek mbakyune manut."

Aduh. Bukankah setiap perkataan adalah doa?

Saya amati perilaku si A. Kelakuannya yang disebut "nakal" itu tak lain adalah usaha mencari perhatian. Bagaimana tidak. Selalu dibanding-bandingkan dengan saudaranya, sedang dia jarang diapresiasi kebaikannya. Hei, anak kan punya kelebihan masing-masing. Jangan dipaksa sama. Lain waktu ketika dia sungguh berlaku keliru, tantrum di hadapan publik, keinginannya justru dituruti, biar cepat reda tangis tantrumnya agar tidak semakin mempermalukan (orang tuanya). Anak jadi bingung dong mana sih yang sebenarnya boleh mana yang tidak.

Dengan perlakuan-perlakuan (yang salah) tersebut, jadilah dia anak yang cenderung melawan orang-orang terdekatnya. Dia juga sering berbuat usil kepada saudara seusianya. Ya itu tadi, saya menangkap itu usahanya untuk mencari perhatian yang tidak dia dapatkan.

Qodarullah, maa syaa Allah, tabaarakallah, si A tersebut anak yang bersikap manis di depan saya. Mudah-mudahan dengan pengetahuan yang sedikit ini, Allah mengijinkan dan memudahkan saya untuk meluruskan bagaimana seharusnya mereka bersikap kepadanya.

Dan yang lebih utama, mudah-mudahan saya bisa menerapkan sedikit ilmu parenting ini kepada anak saya sendiri. Saya paham betul kalau ngomong teori itu lebih gampang daripada prakteknya. Haha. Duh, jadi baper. Hihi.

Keempat, lihat lingkungan dimana Anda tinggal, tantangan di depan Anda, apa maksud Allah mengapa keluarga Anda dihadirkan di sini.

Saya saat ini tinggal di pinggiran kota. Keluarga kami cukup baru tinggal di sini, belum ada satu tahun. Masih merasa jauh dari tetangga. Aduh. Tampaknya itu tantangannya ya. Sebagai warga baru saya harus cepat membaur dengan masyarakat. Membaur tanpa harus melebur. Semoga Allah memudahkan. In syaa Allah. Aamiin.

Saturday, May 27, 2017

Nice Home Work #2 - Indikator Profesionalisme

Maa syaa Allah, luar biasa Nice home Work dari Institut Ibu Profesional ini. Ini sih namanya PR muhasabah. Hehe.

PR ini memaksa saya melakukan evaluasi yang kadang terlewatkan. Maksudnya evaluasi yang diagendakan secara khusus dibuat list-list nya, tidak sekedar disadari dan kemudian lupa. Ehehe.

Profesional. Bukan cuma dokter yang harus profe. Bukan cuma guru yang harus profe. Setiap individu harus profesional karena setiap individu sesungguhnya sedang menjalankan perannya masing-masing. Bersungguh-sungguh menjalani apapun peran kita, karena yang demikian itu sebenarnya adalah wujud syukur kita kepada Allah. Uuuww.. ngingetin diri sendiri ini namanya πŸ˜… .

Yuk marii kita buat check list nya.

“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”

a. Sebagai individu

1. Sholat 5 waktu di awal waktu setiap hari.
2. Dzikr pagi dan sore setiap hari.
3. Baca Al Qur'an 5 lembar setiap hari.
4. Sholat dhuha 2 x 2 raka'at setiap hari.
5. Sholat malam 3x tiap pekan.
6. Puasa sunnah 2x tiap pekan.
7. Olahraga minimal 2 jam tiap pekan. Kapan terakhir Anda olahraga? Ehe. Ngomong di depan cermin.
8. Silaturrahim ke rumah saudara / teman 1x tiap pekan.
9. Shodaqoh 1x tiap pekan.
10. Baca buku baru minimal 2 buku tiap bulan. Eh, pokoknya asal belum pernah dibaca itu namanya baru lho ya.
11. Optimasi jualan online konsisten setidaknya 2 jam per hari.
12. Menabung cash 1x tiap pekan. Iyes. Menabung cash. Karena saya suka "belanja". Dan terkadang yang macam ini syusaaahh syekali dijelaskannya. Iyaa "belanja". Nampaknya ini harus dibuat post baru nantinya biar ga pada salah tafsir. Hahaha.
13. Rihlah ala saya x setiap bulan. Ala saya? Ke toko buku. Muter2 kota. Muter2 desa. Sight seeing. Main ke Karita Muslim Square. Ahaha. Nggak, gak beli baju. Sungguh saya cuma demen sight seeing. Rihlah ini penting yaa. Ibu rumah tangga itu gak boleh lumuten. Pikirannya harus selalu fresh.
14. Kulwap? Seminar? Apa pun tentang keilmuan apa pun. Bingung bacanya? Ehe. Ibu rumah tangga itu harus melek ilmu. Udah gitu aja.

b. Sebagai istri

Petunjuk NHW mengatakan poin ini bisa didiskusikan dengan suami. Dan seperti biasa sebagaimana sudah dinyana, jawaban suami saya singkat bin padat.

"nurut sama suami"

Wis. Sudah. Gitu saja. Ga ada penjabarannya lagi.

Jadi bolehlah bantu saya menjabarkan ini.

1. Gak gampang nyunyun.

Ahahah. Dengan sepenuh kesadaran saya menulis ini. Wanita kabarnya punya 20ribu kata per hari yang siap dikeluarkan ya. Ketika puluhan ribu kata itu tidak tersalurkan, maka gampang nyunyunlah seorang wanita. Saya kira gak cuma saya. Cari temen. Ehe.

Oleh karena itu, saya harus mencari solusi demi kegembiraan saya sendiri. Eh, maksudnya, gimana caranya saya gak nyunyun ketika puluhan ribu kata itu tidak tersalurkan, sehingga saya tetap bahagia. Karena kebahagiaan seorang istri dan ibu itu menentukan kebahagiaan seisi rumah. Eaa. Betul lho ini.

Solusinya adalah, menulis. Tampaknya perlu 2 media tergantung tingkat kerahasiaannya. Pertama blog. Kedua diary. Eaaa. Dear Diary. Ahihihi.

2. Berdiskusi dengan suami setidaknya 1x dalam satu pekan.

Ealah, gak cuma osis sama bem lho yang butuh visi misi. Keluarga kecil itu kunci utama terbentuknya generasi. Anak itu gak ujug-ujug sholih. Anak gak tiba-tiba senang baca buku. Anak gak tau-tau berakhlak mulia. Banyak hal yang sebaiknya dibicarakan dan disepakati untuk membentuk generasi yang kita inginkan.

Hey kamu suamikuu, ayo kita agendakan.

3. Merencanakan menu keluarga untuk satu pekan ke depan.

Well, siapa yang nyaris gak pernak masak tetiba harus masak setiap hari ngakuu? (Ngacung tinggi-tinggi.)

Perencanaan menu sepertinya akan mengurangi ke-stress-an dalam memasak. Hihi.

I love cooking when everyone says the foods are deliciously mouthwatering. Ahaha. Maksa. (Bener gak sih ini inggrisnya. Hihi)

4. Rajin merawat wajah dan diri. Tampil lebih cantik di depan suami.

Aduh, harusnya ini lebih spesifik lagi dan ada batas waktunya ya. Tapi kok, tapi kok, biar begini dulu deh. Hehe.

5. Memastikan rumah rapi dan bersih.

Ini terus terang juga agak susah dibuat timebound nya. Everyone should have understood.

Bukan tidak mungkin ibu dengan bayi/batita/balita itu rumahnya rapih. Tapi saya memilih untuk memaklumkan diri sendiri ketika ada kalanya lelah melanda.

Saya berprinsip, kewarasan saya sebagai seorang ibu/istri lebih penting. Idealis mengusahakan rumah rapih terus tapi jiwanya berantakan kan berabe. Saya berdoa saja mudah-mudahan Allah mudahkan rejeki keluarga kami untuk panggil Go Clean atau cleaning service, laundry, bahkan go food kapan pun diperlukan. Ahaha. Aamiin.

Solusi paling sederhana adalah dengan tidak menunda ketika fisik dan psikis sedang baik-baiknya :-*

6. Rihlah khusus dengan suami setidaknya 1 bulan 1 kali. Ini kalau anak dah makin gedhe kali yak. Hehe.

7. Tahan 30 detik sambil tarik nafas panjang sebelum menjawab pembicaraan suami ketika gelombang emosi mulai terasa datangnya. Eh.

Jadi gini, saya terbiasa dengan didikan ortu yang membebaskan anaknya berpendapat, demokratis gitu. Sampai dengan bapak ibu pun seperti dengan teman sendiri. Rupa-rupanya pasangan hidup kadang bermasalah dengan itu. Menjelaskan panjang lebar ternyata terdengar seperti membantah. Errr... baiklah pasangan hidupku, ijinkan saya berproses menyesuaikan diri denganmu tanpa menghilangkan jati diriku.

Mengalah untuk menang.

Loh, ujung-ujungnya kok gitu. Ahaha.

c. Sebagai ibu

Ini bisa didiskusikan bersama anak ya. Tapi berhubung anaknya masih bayik ya dirumuskan sendiri dulu. Ehe.

1. Memasak home made food untuk anak setiap hari.
2. Mengusahakan camilan sehat atau home made setiap hari.
3. No gadget setiap sedang bersama anak kecuali untuk hal yang benar2 penting dan mendesak.
4. Membacakan cerita untuk anak setiap hari minimal 15 menit per hari.
5. Bermain bersama anak setiap hari. Merencakan permainan2 yang mendidik untuk satu pekan ke depan.
6. Mendengarkan cerita anak setiap hari. Jadi pendengar yang baik. Jadi teman bicara yang menyenangkan dan bisa dipercaya.
7. Melibatkan anak dalam setiap aktivitas positif. Misal melibatkan anak saat berdzikr pagi dan sore hari.
8. Kalau anak sudah lebih dari satu, harus direncanakan waktu yang disepakati setiap pekannya untuk menjadi "me time" untuk ibu dan masing-masing anak. Our time kali ya bukan me time. Hehe.
9. Selalu siap mendengarkan masukan dari anak. Menjadi orang tua itu "cuma" menang usia pengalaman, tapi tidak lantas orang tua pasti benar. Harus sungguh legowo menyadari itu. Harus menjadi orang tua yang terbuka, tidak menghakimi, dan mau berusaha memahami.
10. Memberi pembebanan tugas sesuai usia untuk melatih tanggung jawab.
11. Berusaha selalu update dengan isu-isu parenting terkini dengan solusinya.

Apalagi yaa...

Well.. tentang menjadi diri yang profesional, tentang menjadi istri yang profesional, tentang menjadi ibu yang profesional, sepertinya harus dijalani dengan fleksibel dan tidak kaku. Indikator-indikator yang sudah tertulis adalah acuan untuk meningkatkan profesionalisme yang ingin diraih. Ketika sudah tercapai, tidak otomatis artinya sudah profesional. Harus menantang diri untuk lebih lagi dengan tetap merendahkan hati dan lebih banyak mendengar. Karena menurut yang saya pahami, indikator profesionalisme sebagai ibu dan istri yang sesungguhnya adalah kebahagiaan suami, anak, dan keluarga kita akibat keberadaan kita di sisi mereka.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi pribadi, istri, ibu yang selalu mendapat tempat spesial di hati suami, anak, dan orang-orang di sekitar kita. In syaa Allah. Aamiin.

Wednesday, May 17, 2017

Nice Home Work Pertama

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Maa syaa Allah, lama sekali saya tidak menulis di blog ini ^^,. Sekarang menulis dengan status baru. Aduh. Uhuk. Perkenalan ulang saja deh ya :D

Nama saya Sekar. Alhamdulillah, sudah berstatus seorang istri dan juga seorang ibu. Status baru yang terus berulang kali menyadarkan saya bahwa kita sungguh harus menjadi pembelajar sejati karena kehidupan menawarkan tantangan-tantangan yang harus diselesaikan.

Menikah misalnya. Sungguh saat akan menikah dulu, ribet sekali menyiapkan pernikahan. Seolah-olah, "marriage is only the celebration, the party." Padahal ada medan perjuangan yang sesungguhnya setelah pesta itu usai. Sungguh saya sudah tahu tentang hal itu sejak dulu :D tapi nyatanya tetap ada "masa kaget" tuh ketika menjalani pernikahan ^^,. Kaget ternyata tanggung jawab setelah menikah itu besar. Haha. Menjadi istri itu tidak sekedar status yang berubah karena seorang lelaki telah menjalani ijab qabul dengan wali kita. Status berubah dengan disertai tanggung jawab-tanggung jawab baru, tentang bagaimana merawat rumah, tentang melayani suami, tentang merawat diri, tentang membagi waktu dan perasaan ketika lebaran tiba karena orang tuanya sekarang dua pasang. Maa syaa Allah.

Kemudian ketika si kecil lahir, menjadi seorang ibu. Melahirkan tidak sekedar proses menikmati gelombang cinta yang aduhai (terus terang saja) sakitnya, dan kemudian usai ^^,. Beberapa jam kemudian ketika tubuh masih cukup lemah dan rasanya ingin mendadak manja (hehe) , buah hati diantarkan ke kamar Anda. Siap tidak siap Anda harus siap menjawab setiap panggilan cinta (nenen/ganti popok/dan lain sebagainya ^^, hehehe).

Nah, menjalani itu semua (ternyata) butuh ilmu. Padahal peran yang saya contohkan baru dua. Hehe. Kesadaran itu mengantarkan saya untuk mengikuti kelas di Institut Ibu Profesional. Sebagai salah satu ikhtiar untuk.. ya ingin menjadi ibu yang profesional ^^,.

Harus saya katakan bahwa beberapa paragraf di depan sebenarnya adalah prolog. Hahaha. Prolog yang cukup panjang ya.

Kuliah matrikulasi di Institut Ibu Profesional ternyata ada PR nya pemirsa. Hihi. Nama kerennya Nice Home Work. Berikut ini Nice Home Work yang pertama untuk mengikat ilmu tentang Adab Menuntut Ilmu 😘

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Hmm.. universitas kehidupan menawarkan banyak jurusan ya. Jadi terbawa aliran rasa ketika memutuskan memilih jurusan kuliah S1. Dari sekian banyak jurusan, akhirnya Allah pilihkan saya jurusan Kimia. Dan akhirnya saya menjadi ibu rumah tangga. Hahaha.

Hei, tidak pernah ada yang salah dengan ibu rumah tangga, pun tidak ada yang salah dengan ibu pekerja. Masing-masing adalah pilihan kita sendiri yang harus kita pertanggungjawabkan. Bukankah demikian?

Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan saya dengan sepenuh kesadaran. Kalau ada yang tanya, "Ijazah sarjana Anda buat apa?" Kesempatan berkuliah mendidik saya untuk merasakan kultur pendidikan yang penuh tanggung jawab, mendidik saya untuk tidak berhenti menjadi pembelajar, dimana pun, kapan pun, apa pun bidangnya.

Kini, dengan status sebagai seorang ibu rumah tangga, bismillahirrahmanirrahim, in syaa Allah saya akan menekuni bisnis. Khususnya bisnis online.

2. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

Karena saya ingin di rumah ^^,. Maksud saya, bisnis online adalah cara yang paling mungkin bagi saya untuk tetap berpenghasilan (sendiri) tanpa harus meninggalkan rumah. Karena fitrah wanita adalah berada di rumahnya. Karena tanggung jawab terbesar wanita terletak di dalam rumahnya. Terutama (buat saya) tentang mengurus anak dan suami, tentang mendidik anak, tentang menyiapkan generasi. Maa syaa Allah, saya kok jadi baper :') . Katanya di rumah biar bisa ngurus seisi rumah. Sudah di rumah. Sudah terurus dengan baik kah "isi rumah" nya? Aduh. Tuh kan baper. Hahaha.

Boleh klik link ini (biar tambah baper) #eh hehehe.

https://muslim.or.id/9164-pahala-melimpah-bagi-muslimah-yang-tinggal-di-rumah.html

3. Strategi menuntut ilmu dalam bidang tersebut.

Ilmu bisnis online secara umum, telah sedang dan akan saya pelajari dengan cara berikut:
- kelas online tentang bisnis online (ternyata banyak pilihan ^^)
- buku-buku yang mendukung bisnis online
- menjalin silaturrahim dengan pebisnis, berdiskusi dengan mereka, ikut komunitas bisnis
- kelas offline yang mendukung bisnis online (mudah-mudahan Allah berikan kesempatan dan kemudahan)
- coaching bisnis (mudah-mudahan Allah berikan kesempatan dan kemudahan)

Bisnis online yang saya jalani spesifiknya menyediakan fashion muslim syar'i dengan mengusung brand ESTE. Boleh cek instagram @este.hijab atau web (yang kurang terurus, aduh) di www.estehijab.com . Fanspage nya juga ada, ESTE Hijab Syar'i Duh kok malah promosi. Hihi

Lini fashion syar'i memaksa saya untuk juga memahami seluk beluk fashion tentu saja. Jadi saya juga harus belajar bidang ini, di antaranya yang masuk perencanaan saya :
- ikut kelas menjahit, online, yeaayyy ternyata ada ^^" maa syaa Allah (nabung dulu)
- short course fashion design, sungguh ini ada dalam wish list selalu :D

Untuk short course fashion design, karena domisili di Jogja setahu saya ada PAPMI. Semoga Allah memberikan kesempatan dan kemudahan. Meski masih awang-awang en kalau bahasa jawanya, ahaha.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa yang akan diperbaiki

Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.

Maa syaa Allah, satu hal ini, bahwa ilmu bisa datang dari siapa saja. Saya sedang diuji dengan 'penyakit' negatif thinking :( justru pada beberapa orang dekat. Merasa diragukan, ah. Semakin saya merasa diragukan, semakin mood saya memburuk. Efeknya produktivitas yang menurun. Tidak dengan setiap orang. Hanya orang-orang tertentu saja entah bagaimana. Maka saya harus mengikhlaskan ini. Ikhlas. Ikhlas. Ikhlas. Bismillah. Semoga Allah memudahkan saya untuk mengikhlaskan perasaan diragukan ini.



Nah, sudah terjawab semua nice home work nya :D . Semoga Allah memudahkan kita untuk meraih ridho-Nya. Aamiin. In syaa Allah. Aamiin.